PT.Gorontalo Citra Lestari (GCL) dan PT.Gema Nusantara Jaya (GNJ) adalah dua unit pengelolaan hutan tanaman industri yang tergabung dalam Katingan Timber Group (KTG) kedua unit usaha ini berada di Provinsi Gorontalo tepatnya ada di kabupaten Gorontalo dan Gorontalo Utara. Pihak KTG berkomitmen untuk melakukan pengelolaan hutan tanaman industri yang berkelanjutan dengan tidak hanya melihat aspek produksi semata tetapi juga memperhatikan aspek sosial dan budaya serta lingkungan yang ada di sekitarnya. Untuk menunjukan kesungguhan dalam pengelolaan hutan tanaman berkelanjutan, pihak KTG akan mengikuti skema sertifikasi sukarela berdasarkan standar Forest Stewarship Council (FSC).

Pengelolaan hutan tanaman akan berkelanjutan bila berada pada keseimbangan antara nilai-nilai dan kepentingan ekonomi, ekologi, dan sosial.   Aspek sosial merupakan salah satu kriteria yang penting dalam pengelolaan hutan tanaman lestari. Pada standar FSC aspek sosial terdapat pada prinsip 4 tentang hubungan masyarakat dan hak-hak pekerja. Prinsip 8 monitoring dan penilaian.  Sedangkan aspek social impact assessment atau kajian dampak sosial merupakan komponen yang disyaratkan, yang tertuang dalam kriteria FSC 4.4 yang berbunyi: “Rencana pengelolaan dan kegiatan-kegiatan harus menyertakan hasil-hasil evaluasi dampak sosial. Proses-proses konsultasi harus terus dilaksanakan dengan perseorangan atau kelompok (laki-laki dan perempuan) yang secara langsung terkena dampak dari kegiatan operasional manajemen”.

Lingkup Studi Dampak Sosial dilakukan di lingkungan internal dan eksternal GCL dan GNJ melalui diskusi kelompok terfokus, iterview dan observasi lapangan serta melakukan interview dengan instansi pemerintah terkait baik di tingkat kabupaten maupun provinsi.  Diskusi kelompok terfokus dan interview di lingkungan internal  dilakukan terhadap karyawan atau staf dari tingkat buruh, pekerja harian, borongan, kontraktor, mandor, sekuriti  dengan mengambil sample beberapa orang dari masing-masing tingkatan pekerja.  Sedangkan untuk lingkungan eksternal dilakukan terhadap masyarakat desa-desa sekitar GCL dan GNJ yang mengambil sample masing-masing 20 desa dengan total sebanyak 40 desa sample.

Tujuan Studi Dampak Sosial
Secara umum, tujuan dari studi dampak sosial (SDS) adalah mengidentifikasi dampak sosial dan mitigasinya dari aktifitas pengelolaan hutan tanaman industri yang dioperasikan oleh GCL dan GNJ di Provinsi Gorontalo. SDS bermanfaat bagi perusahaan, antara lain:

  1. Untuk memenuhi persyaratan memperoleh sertifikasi hutan lestari, sesuai Prinsip dan Kriteria FSC;
  2. Untuk membekali unit manajemen dengan pengetahuan dan pemahaman yang memadai mengenai isu-isu sosial, dampak sosial, dan resiko sosial agar mampu mengantisipasi, memitigasi, dan mengelola aspek sosial dengan baik;
  3. Sebagai investasi sosial untuk menopang atau memperkuat penopang lingkungan sosial bagi keberlangsungan perusahaan dalam jangka panjang.

Pendekatan Studi Dampak Sosial
Studi Dampak Sosial dilakukan dalam kerangka pendekatan ‘Keberlanjutan Sosial’ (Social Sustainability). Kehadiran unit pengelolaan hutan tanaman industri akan memberikan pengaruhnya terhadap social sustainability masyarakat lokal di desa-desa sekitar unit pengelolaan hutan tanaman. Dalam hal ini ada lima komponen dari social sustainability, yakni: 1). Human capital, 2). Natural capital, 3). Financial capital, 4). Social capital, dan 5). Physical capital.  Setiap komponen capital tersebut terdiri dari elemen-elemen. Lingkup dan fokus identifikasi dari elemen-elemen tersebut didasarkan atas isu-isu yang dipandang atau dirasakan penting oleh para pihak (stakeholders). Hasil-hasil identifikasi isu dari para pihak tersebut kemudian diverifikasi dan dieksplorasi di lapangan. Pendekatan yang dilakukan dalam SDS adalah teknis sebagai berikut:

  1. Partisipatif; sejauh mungkin para pihak (stakeholders) dilibatkan secara aktif dalam proses identifikasi dampak;
  2. Konsultasi: representasi stakeholders dilibatkan secara aktif untuk menggali aspirasi atau gagasan bagaimana dampak dikelola,
  3. Triangulasi: melakukan kajian lapangan dengan mengkombinasikan teknik observation-interview-verification dan
  4. Rapid; dilakukan secara cepat untuk menggali isu-isu dan substansinya.

Pelaksanaan Kegiatan
Pelaksanaan kegiatan SDS di dilakukan dari tanggal 10 Mei sampai 5 Juni 2016, dilaksanakan efektif selama 20 hari dan melibatkan 5 orang tim pengkaji, dengan menjumpai sekitar 500 narasumber, 10 stakeholders dan menyelenggarakan 55 pertemuan informal dan 2 pertemuan formal.

Para Pihak.
Dalam konteks hutan tanaman industri berkelanjutan, yang dimaksud dengan para pihak kunci (keys-stakeholders) adalah pihak-pihak yang secara signifikan memiliki pengaruh terhadap kehadiran, kegiatan dan operasional rencana hutan tanaman industri, dari hasil identifikasi beberapa pihak yang ditemui dan diwawancarai untuk menilai relasi pengaruh-dipengaruhi atas hadir dan beroperasinya hutan tanaman industri.