Pengelolaan Strategis Nilai Konservasi Tinggi di PT Gorontalo Citra Lestari

 

Tujuan utama dari pengelolaan strategis adalah memberikan arah secara strategis apa yang dilakukan dalam rangka mencapai keseimbangan antara aspek ekonomi (produksi), lingkungan (konservasi) dan sosial (masyarakat). Dalam hubunganya dengan NKT yang dijumpai di dalam areal konsesi GCL dan GNJ, tujuan ini menjadikan kedua unit pengelola GCL/GNJ agar menjalankan sistem pengelolaan dan pemantauan untuk menjamin pemeliharaan dan/atau peningkatan nilai-nilai tersebut. Temuan nilai konservasi tinggi tidak selalu harus dijadikan kawasan perlindungan, tetapi konsep NKT menyaratkan agar pembangunan/aktivitas di dalam wilayah itu dilaksanakan dengan cara yang dapat menjamin pemeliharaan dan atau peningkatan nilai konservasi. Pendekatan NKT berupaya membantu masyarakat secara umum mencapai keseimbangan rasional antara keberlanjutan lingkungan hidup dengan pembangunan ekonomi jangka panjang.

Beberapa aktivitas yang direkomendasikan dan mendukung untuk mencapai tujuan tersebut antara lain, unit pengelola GCL dan GNJ harus :

  • Menerapkan sistem pembukaan lahan-hutan dengan memperhatikan aspek konservasi tanah dan air di dalam kawasan hutan yang ada. Sistem pembukaan hutan menjadi aspek pertama yang mesti dipikirkan karena kegiatan pembangunan hutan tanaman selalui didahului dengan aktivitas pembersihan lahan. Seperti disebutkan dalam Tabel 37 diatas, dampak yang akan ditimbulkan oleh kegiatan ini diantaranya terjadi fragmentasi habitat, hilangnya spesies, rusaknya ekosistem, hilang tutupan hutan, hilangnya jenis-jenis pohon pakan, pohon-pohon sarang, konflik satwa dengan manusia (baik dengan perusahaan, maupun dengan masyarakat), peningkatan peluang perburuan dan pemangsaan pada jenis-jenis tertentu, serta kebakaran lahan, sedimentasi dan erosi;
  • Menerapkan praktek-praktek pengelolaan hutan tanaman terbaik adalah sesuatu yang harus dilakukan oleh kedua unit pengelola GCL dan GNJ. Pengelolaan hutan tanaman kalau dilihat dari resiko dan dampak yang akan ditimbulkan terutama terhadap lingkungan sangat besar resikonya terhadap lingkungan. Namun demikian apabila dilakukan dengan menerapkan praktek-praktek pengelolaan hutan yang paling baik maka ini akan menjadi sesuatu yang akan banyak menimbulkan dampak positif terhadap lingkungan. Praktek pengelolaan hutan tanaman seperti apa yang diharuskan ? itu menjadi pekerjaan rumah bagi kedua unit pengelola, mulai dari sistem pembukaan lahan, penanaman, pemeliharaan, pemanenan kayu sampai pengangkutan hasil. Praktek pengelolaan hutan tanaman terbaik merupakan upaya untuk menekan dan menjawab terhadap ke-6 ancaman diatas;
  • Kedua unit pengelola harus membuat Conservation management plan (CMP) untuk jenis-jenis satwa yang khas atau satwa kunci di kedua konsesi, untuk jenis satwaliar RTE yang bisa masuk dalam kategori spesies kunci adalah keluarga Phalangeridae seperti Ailurops ursinus ursinus (Kuskus Beruang), Strigocuscus celebensis feileri ( Kuskus Kecil), Tarsiidae seperti Tarsius diannae (Tarsier diannae), Tarsius pumilus (Tarsier sulawesi), Cercopithecidae seperti Macaca nigrescens (kera hitam berjambul). Untuk burung yaitu Kangkareng Sulawesi (Penelopides exarhatus), Julang Sulawesi (Aceros cassidix);
  • Menjalin kerjasama yang harmonis dengan para pemangku kepentingan setempat. Tentu hal ini menjadi hal yang sangat penting selain kedua poin diatas.  Hubungan yang harmonis dengan semua pemangku kepentingan merupakan pendukung utama keberhasilan pengusahaan hutan tanaman yang ada saat ini di kedua unit pengelola