Progress Pelaksanaan Pemantauan Jangka Pendek

High Conservation Value /Nilai Konservasi Tinggi

PT Gema Hutani Lestari

Berdasarkan Prosedur Pemantauan dan Pengukuran Lingkungan dan Nilai Konservasi Tinggi (GHL/PL/BHT.05) diatur ketentuan parameter yang dipantau, indikator yang dipantau, tolok ukur pemantauan dan metoda pemantauannya.  Tabel 1 di bawah ini menunjukkan progress hasil pemantauan untuk setiap parameter yang dipantau yang dapat diperbandingkan hasil pemantauannya dari tahun ke tahun.

Paramater yang dipantau merupakan Kawasan Lindung (menurut Dokumen RKL/RPL) sekaligus merupakan teridentifikasi Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi (KBKT) / Nilai Konservasi Tinggi (NKT) menurut hasil Penilaian Konservasi Tinggi (Full High Conservation Value Assessment) di areal konsesi PT Gema Hutani Lestari.

Tabel 1. Realisasi Progres Pelaksanaan Kegiatan Pemantauan Jangka Pendek / Per Tahun HCV/NKT PT Gema Hutani Lestari.

No. Parameter yg Dipantau Indikator yg Dipantau Tolok Ukur Metoda Hasil Pemantauan
2013 2014 2015 2016 2017 2018
1. Areal Lereng >40% (Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi 4.2)
a. Tanda Batas Tanda cat merah melingkar pada pohon dan rintisan. Tanda pada pohon setiap 25-50 meter dan rintisan selebar 2 meter. Pengamatan pada waktu patroli. Berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan tanda batas areal lereng >40% lokasi Waemutu berupa cat merah pada pohon dan rintisan pada setiap 25-50 meter dan rintisan selebar 2 meter masih ada dan jelas terlihat jelas di lapangan. Berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan tanda batas areal lereng >40% lokasi Waili berupa cat merah pada pohon dan rintisan pada setiap 25-50 meter dan rintisan selebar 2 meter masih ada dan terlihat jelas di lapangan. Berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan tanda batas areal lereng >40% lokasi Waili berupa cat merah pada pohon dan rintisan pada setiap 25-50 meter dan rintisan selebar 2 meter masih ada dan terlihat jelas di lapangan.      
b. Papan-papan Himbauan Pemasangan papan-papan himbauan. Minimal 1 unit di setiap Areal lereng >40% menghadap ke jalan. Pengamatan pada waktu patroli. Berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan terdapat 1 unit  papan himbauan Larangan Menebang di Areal Lereng >40% masih ada terpasang menghadap ke jalan. Berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan terdapat 1 unit papan himbauan dilarang menebang di areal lereng >40% Waeli masih ada terpasang menghadap ke jalan. Berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan terdapat 1 unit papan himbauan dilarang menebang di areal lereng >40% Waeli masih ada terpasang menghadap ke jalan.      
c. Vegetasi Hutan Penanaman tanah kosong Jarak tanam 5 meter pada jalur berjarak 8 meter Pengamatan pada penyulaman dan 3 bulan setelah penanaman Berdasarkan hasil pemantauan tidak terdapat tanah kosong pada areal lereng >40% sehingga tidak dilakukan kegiatan penanaman tanah kosong. Berdasarkan hasil pemantauan tidak terdapat Tanah kosong pada areal lereng >40% Waeli sehingga tidak dilakukan kegiatan penanaman Tanah kosong. Berdasarkan hasil pemantauan tidak terdapat Tanah kosong pada areal lereng >40% Waeli sehingga tidak dilakukan kegiatan penanaman Tanah kosong.      
d. Kerusakan Tanda-tanda kerusakan dan penebangan pohon Tidak ada penebangan pohon dalam areal lereng >40%. Pengamatan pada waktu patroli. Tidak ada tanda-tanda kerusakan dan/atau penebangan pohon pada areal lereng >40%. Tidak ada tanda-tanda kerusakan dan/atau penebangan pohon pada areal lereng >40% Waili. Tidak ada tanda-tanda kerusakan dan/atau penebangan pohon pada areal lereng >40% Waili.      
2. Sempadan Sungai (yang merupakan sebagian dari Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi 4.1)
a. Tata Batas Tanda cat merah melingkar pada pohon dan rintisan Tanda pada pohon setiap 25-50 meter dan rintisan selebar 2 meter. Pengamatan pada waktu patroli. Berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan tanda batas Sempadan Sungai lokasi Waenibe berupa cat merah melingkar pohon dan rintisan pada setiap 25-50 meter dengan lebar rintisan 2 meter masih ada dan terlihat jelas di lapangan. Berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan tanda batas batas Sempadan Sungai Waelanga berupa cat merah melingkar pohon dan rintisan pada setiap pohon 25-50 meter dengan lebar rintisan 2 meter masih ada dan terlihat jelas di lapangan. Berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan tanda batas batas pada Sempadan Sungai Waebebek (Blok Utara) dan Siopot (Blok Selatan) berupa cat merah melingkar pohon dan rintisan pada setiap pohon 25-50 meter dengan lebar rintisan 2 meter masih ada dan terlihat jelas di lapangan.      
b. Papan-papan himbauan Pemasangan papan-papan himbauan. Minimal 1 unit di setiap Sempadan Sungai menghadap ke jalan. Pengamatau pada waktu patroli. Berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan terdapat 1 unit papan himbauan di Sempadan Sungai terpasang menghadap ke jalan. Berdasarkan hasil pemantauan yg dilakukan terdapat 1 unit papan himbauan di Sempadan Sungai Waelanga terpasang menghadap ke jalan. Berdasarkan hasil pemantauan yg dilakukan terdapat 1 unit papan himbauan di Sempadan Sungai Waebebek (Blok Utara) dan Siopot (Blok Selatan) terpasang menghadap ke jalan.      
c. Vegetasi Hutan. Penanaman Tanah kosong. Jarak tam 5 meter pada jalur berjarak 8 meter. Pengamatan pada penyulaman 3 bulan setelah penanaman. Berdasarkan hasil pemantauan pada sSempdan sungai tidak dujumpai adanya tanah kosong sehingga tidak dilakukan penanaman Tanah kosong. Tidak dijumpai adanya tanah kosong pada areal Sempadan Sungai Waelanga, sehingga kegiatan penanaman Tanah kosong tidak dilakukan. Tidak dijumpai adanya tanah kosong pada areal Sempadan Sungai Waebebek (Blok Utara) dan Siopot (Blok Selatan), sehingga kegiatan penanaman Tanah kosong tidak dilakukan.      
d. Kerusakan Tanda-tanda kerusakan dan penebangan pohon. Tidak adanya penebangan pohon sempadan sungai. Pengamatan pada waktu patroli. Tidak dijumpai adanya tanda-tanda kerusakan dan/atau penebangan pohon di sempadan sungai. Tidak dijumpai adanya tanda-tanda kerusakan dan/atau penebangan pohon di Sempadan Sungai Waelanga. Tidak dijumpai adanya tanda-tanda kerusakan dan/atau penebangan pohon di Sempadan Sungai Waebebek (Blok Utara) dan Siopot (Blok Selatan).      
e. Kualitas Air Sungai Sedimentasi Tingkat sedimentasi maksimum 10%. Pengamatan dan sampling botol kaca. Berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan tidak dijumpai adanya erosi atau longsor pada sempadan sungai Waetabi. Berdasarkan hasil Uji Lab Balai Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Kelas II Ambon dari 3 Parameter Fisika dan 16 Parameter Kimia berada dalam ambang batas yang diizinkan. Berdasarkan hasil Uji Sampel Air Sungai Waelanga Hulu dan Sungai Waelanga Hulir dari Lab Balai Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Kelas II Ambon dari 3 Parameter Fisika dan 16 Parameter Kimia berada dalam ambang batas yang diizinkan.      
3. Buffer Zone Hutan Lindung (yang merupakan Kawasan Pengelolaan Nilai Konservasi Tinggi 1.1)
a. Tanda Batas Tanda cat merah melingkar pohon dan rintisan. Tanda pada pohon setiap 25-50 metere dan rintisan selebar 2 meter Pengamatan pada waktu patroli Berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan pada Buffer Zone Hutan Lindung di Km 15 tanda cat merah melingkar pohon dan rintisan pada setiap 25-50 meter dengan lebar rintisan 2 meter masih ada terlihat jelas di lapangan. Berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan pada Buffer Zone HL disektar Waelanga tanda cat merah melingkar pohon dan rintisan pada setiap 25-50 meter dengan lebar 2 meter masih ada terlihat jelas di lapangan. Berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan pada Buffer Zone HL disektar Waelanga Waebebek tanda cat merah melingkar pohon dan rintisan pada setiap 25-50 meter dengan lebar 2 meter masih ada terlihat jelas di lapangan.      
b. Papan-papan Himbauan. Pemasangan papan-papan himbauan. Minimal 1 unit di setiap kawasan Buffer Zone HL menghadap ke jalan. Pengamatan pada waktu patroli. Berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan terdapat 1 buah papan himbauan Batas Buffer Zone Hutan Lindung masih ada terpasang menghadap jalan. Berdasarkan hasil pemantauan yg dilakukan terdapat 1 buah papan himbauan yg terpasang menghadap ke jalan. Berdasarkan hasil pemantauan yg dilakukan terdapat 1 buah papan himbauan yg terpasang menghadap ke jalan.      
c. Vegetasi Hutan Penanaman Tanah kosong. Jarak tanam 5 meter pada jalur berjarak 8 meter. Pengamatan pada penyulaman dan 3 bulan setelah penanaman. Berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan, tidak dijumpai adanya tanah kosong pada Buffer Zone HL, sehingga tidak dilakukan kegiatan penanaman tanah kosong. Tidak dijumpai adanya tanah kosong pada Buffer Zone HL di Waelanga sehingga tidak dilakukan kegiatan penanaman tanah kosong. Tidak dijumpai adanya tanah kosong pada Buffer Zone HL di Waelanga Waebebk sehingga tidak dilakukan kegiatan penanaman tanah kosong.      
d. Kerusakan Tanda-tanda kerusakan dan penebangan pohon. Tidak adanya penebangan pohon dalam Buffer Zone Hutan Lindung. Pengamatan pada waktu patroli. Tidak terdapat tanda-tanda kerusakan dan/atau penebangan pohon dalam Buffer Zone Hutan Lindung. Tidak terrdapat tanda-tanda kerusakan dan/atau penebangan pohon dalam Buffer Zone HL sekitar Waelanga. Tidak terrdapat tanda-tanda kerusakan dan/atau penebangan pohon dalam Buffer Zone HL sekitar Waelanga Waebebek.      
e. Pos-pos Jaga Pembangunan pos-pos jaga. Minimal 1 unit di setiap Buffer Zone HL menghadap ke jalan. Pengamatan pada waktu patroli. Pos Jaga ada 1 Unit di pintu masuk menuju areal kerja PT GHL. Pos jaga 1 unit di pintu masuk menuju areal kerja PT GHL. Pos jaga 1 unit di pintu masuk menuju areal kerja PT GHL.      
4. Kawasan Pelestarian Plasma Nutfah (Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi 1.2 dan 1.3)
a. Tanda Batas Tanda cat merah melingkar pada pohon dan rintisan. Tanda pada pohon setiap 25-50 meter dan rintisan selebar 2 meter. Pengamatan pada waktu patrol. Tanda cat merah melingkar pohon dan rintisan pada batas KPPN setiap 25-50 meter dengan lebar rintisan 2 meter masih ada terlihat di lapangan. Berdasarkan hasil pemantauan pada areal KPPN Km 4, tanda cat merah dan rintisan pada batas setiap 25-50 meter dengan lebar rintisan 2 meter ada dijumpai dan terlihat di lapangan. Berdasarkan hasil pemantauan pada areal KPPN lokasi Waeli, tanda cat merah dan rintisan pada batas setiap 25-50 meter dengan lebar rintisan 2 meter ada dijumpai dan terlihat di lapangan.      
b. Papan-papan Himbauan Pemasangan papan-papan himbauan. Minimal 1 unit di setiap Kawasan Pelestarian Plasma Nutfah menghadap ke jalan. Pengamatan pada waktu patroli. Pemasangan Papan Nama lokasi Areal KPPN ada dijumpai di lapangan yang dipasang menghadap ke jalan. Papan nama Areal KPPN ada dijumpai di lapangan menghadap ke jalan. Papan nama Areal KPPN Waeli ada dijumpai di lapangan menghadap ke jalan.      
c. Vegetasi Hutan Penanaman tanah kosong. jarak tanam 5 meter pada jalur berjarak 8 meter. Pengamatan pada waktu patroli. Tidak dijumpai adanya tanah kosong pada KPPN, sehingga tidak dilakukan kegiatan penanaman Tanah kosong. Tidak dijumpai adanya tanah kosong pada areal KPPN Km4, sehingga tidak dilakukan penanaman Tanah kosong. Tidak dijumpai adanya tanah kosong pada areal KPPN lokasi Waeli, sehingga tidak dilakukan penanaman Tanah kosong.      
5. Daerah Aliran Sungai (DAS) yang Dimanfaatkan Masyarakat Setempat (Sebagian dari Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi 4.1 dan Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi 5).
a. Tanda Batas Cat merah melingkar pohon dan rintisan. Tanda pada pohon setiap 25-50 meter dan rintisan selebar 2 meter. Pengamatan pada waktu patroli. Cat merah melingkar pohon dan rintisan pada setiap 25-50 meter batas DAS ada dijumpai di lapangan. Berdasarkan hasil pemantauan pada Das/Sub-Das Waelanga dan Waeli dijumpai tanda batas cat merah pada pohon pada jarak setiap 25-50 meter. Berdasarkan hasil pemantauan pada Das/Sub-Das Waelanga dan Waeli dijumpai tanda batas cat merah pada pohon pada jarak setiap 25-50 meter.      
b. Papan-papan Himbauan. Pemasangan papan-papan himbauan. Minimal 1 unit di setiap DAS/SUB-DAS menghadap ke jalan. Pengamatan pada waktu patroli. Pemasangan papan nama DAS/SUB-DAS ada dipasang menghadap jalan. Berdasarkan pemantauan yg dilakukan dijumpai papan himbauan 2 buah terpasang menghadap ke jalan. Berdasarkan pemantauan yg dilakukan dijumpai papan himbauan 2 buah terpasang menghadap ke jalan.      
c Vegetasi Hutan Tanda-tanda kerusakan dan penebangan pohon. Tidak adanya penebangan pohon dalam SUB-DAS yang dimanfaatkan masyarakat. Pengamatan pada waktu patroli. Tidak ditemukan tanda-tanda kerusakan dan penebangan pohon dalam SUB-DAS yang dimanfaatkan masyarakat setempat. Berdasarkan pemantauan yg dilakukan pada Das/Sub-Das Waelanga dan Waeidakli tidak terdapat tanah kosong sehingga tidak dilakukan kegiatan penanaman Tanah kosong. Berdasarkan pemantauan yg dilakukan pada Das/Sub-Das Waelanga dan Waeidakli tidak terdapat tanah kosong sehingga tidak dilakukan kegiatan penanaman Tanah kosong.      
6. Kawasan Sekat Bakar Alami (yang Merupakan Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi 4.3)
a. Tanda Batas Tanda-tanda kerusakan dan penebangan pohon. Tanda pada pohon setiap 25-50 meter. Pengamatan pada waktu patroli.

Dijumpai tanda batas kawasan sekat bakar alami pada pohon setiap 25-50 meter.

Tanda batas sekat bakar alami dijumpai pada pohon setiap 25-50 meter. Tanda batas sekat bakar alami dijumpai pada pohon setiap 25-50 meter.      
b. Kerusakan Tanda-tanda kerusakan dan penebangan pohon. Tidak adanya penebangan pohon dalam zona sekat bakar alami selebar 100 meter dari tepi hutan. Pengamatan pada waktu patroli. Tidak dijumpai tanda-tanda kerusakan dan/atau penebangan pohon dalam zona sekat bakar alami selebar 100 meter dari tepi hutan. Tidak dijumpai tanda-tanda kerusakan dan/atau penebangan dalam zona sekat bakar alami selebar 100 meten.r dari tepi hutan Tidak dijumpai tanda-tanda kerusakan dan/atau penebangan dalam zona sekat bakar alami selebar 100 meten.r dari tepi hutan      
7. Kesadaran Masyarakat dan Konservasi Atas Species yang Sangat Terancam Punah dalam Konsesi (Pemantauan Nilai Konservasi Tinggi 1.2 dan 1.3)
a. Perburuan Jenis Dilindungi oleh Masyarakat. Kesadaran masyarakat terhadap jenis dilindungi. 0% kegiatan penangkapan (bukti senjata atau jerat, perangkap) oleh Satpam Pengamanan Hutan. Wawancara dengan berbagai lapisan masyarakat di areal kerja GHL. Tidak ditemukan masyarakat yang tertangkap membuat jerat dan perangkap perburuan jenis satwa liar dilindungi. Tidak ditemukan masyarakat yang tertangkap tangan pada saat pemantauan dilakukan membuat jerat dan perangkap perburuan jenis satwa liar NKT 1.2 dan NKT 1.3 dan dilindungi. Tidak ditemukan masyarakat yang tertangkap tangan pada saat pemantauan dilakukan membuat jerat dan perangkap perburuan jenis satwa liar NKT 1.2 dan NKT 1.3 dan dilindungi.      
8. Larangan Perburuan/Menjebak Satwa Liar Asli Kepada Staf PT GHL (Pemantauan Nilai Konservasi Tinggi 1.2 dan 1.3)
a. Perburuan jenis dilindungi oleh Staf PT Gema Hutani Lestari. Kesadaran karyawan PT GHL terhadap jenis dilindungi. 0% kegiatan penangkapan (bukti senjata atau jerat, perangkap) oleh Staf PT GHL.

• Survei logging camp, base camp dan lokasi yang yang dikenal sebagai tempat perrburuan.

• Wawancara Staf PT GHL dan masyarakat sekitar hutan.

Berdasarkan survey pada camp produksi di gunung dan camp waetabi tidak ada karyawan PT GHL yang tertangkap membuat jerat dan perangkap perburuan jenis satwa liar dilindungi. Berdasarkan hasil pemantauan yg dilakukan pada camp produksi di gunung dan camp induk serta logpond tidak dijumpai adanya karyawan PT GHL yg tertangkap tangan membuat jerat/perangkap, memiliki senjata/senapan untuk berburu terhadap satwa liar NKT 1.2 dan NKT 1.3 serta dilindungi. Berdasarkan hasil pemantauan yg dilakukan pada camp produksi di gunung dan camp induk serta logpond tidak dijumpai adanya karyawan PT GHL yg tertangkap tangan membuat jerat/perangkap, memiliki senjata/senapan untuk berburu terhadap satwa liar NKT 1.2 dan NKT 1.3 serta dilindungi.      
9. Kerusakan Terhadap Pohon Sarang
a. Kerusakan terhadap pohon sarang. Tanda-tanda kerusakan dan penebangan pohon. 0% penebangan pohon sarang dan dalam 25 meter areal penyangga. Pengamatan pada waktu ITSP. Tidak ditemukan adanya penebangan pohon sarang dan kerusakan pada zona penyangga dalam radius 25 meter dari pohon sarang. Berdasarkan hasil pemantauan Pohon Sarang berlokasi di Waedea dijumpai identifikasi pohon sarang berupa Papan Nama, pemasangan papan himbauan larangan mengganggu pohon sarang dalam radius 25 meter, tidak dijumpai adanya tanda-kerusakan dan/atau penebangan pohon dalam radius 25 meter. Berdasarkan hasil pemantauan Pohon Sarang berlokasi di Waedea dijumpai identifikasi pohon sarang berupa Papan Nama, pemasangan papan himbauan larangan mengganggu pohon sarang dalam radius 25 meter, tidak dijumpai adanya tanda-kerusakan dan/atau penebangan pohon dalam radius 25 meter.      
10. Pengamanan dan Fragmentasi Hutan (Pemantauan NKT 2.1)
a. Pengamanan kawasan hutan dan fragmentasi hutan. Penutupan hutan dan penebangan hutan, sarana prasarana dan kebakaran. 0% pengurangan luas areal hutan, zona inti dan zona penyangga NKT 2.1 Penafsiran citra satelit dan pemeriksaan silang di lapangan. Tidak terdapat pengurangan luas hutan, zona inti dan zona penyangga NKT 2.1 dalam areal kerja PT GHL. Tidak ada pengurangan luas hutan, zona inti dan zona penyangga NKT 2.1 dalam areal kerja PT GHL. Tidak ada pengurangan luas hutan, zona inti dan zona penyangga NKT 2.1 dalam areal kerja PT GHL.      
11. Larangan Alat Berat Dalam Wilayah Sempadan Sungai Kecil dan Hutan Rawa untuk Mempertahankan Fungsi Hidrologis (Pemantauan NKT 4.1 dan 3)
a. Larangan alat berat dalam wilayah sempadan sungai kecil dan hutan rawa. Tanda-tanda alat berat didalam sempadan sungai kecil dan hutan rawa. 0% pemanfaatan alat berat didalam sempadan sungai kecil dan hutan rawa. Survei lapangan sempadan sungai kecil dan hutan rawa. Berdasarkan pemantauan yang  dilakukan tidak ditemukan tanda-tanda alat berat di dalam sempadan sungai kecil dan hutan rawa. Berdasarkan pemantauan yg dilakukan tidak dijumpai tanda-tanda alat berat di dalam sempadan sungai kecil dan hutan rawa. Berdasarkan pemantauan yg dilakukan tidak dijumpai tanda-tanda alat berat di dalam sempadan sungai kecil dan hutan rawa.      
12. Deaktivasi Jalan
a. Dampak lingkungan dari jalan pasca pemanenan. Tanda-tanda erosi disebabkan jalan sarad. 100% jalan sarad di deaktivasi setelah kegiatan pemanenan. Survey rutin di areal RKT pasca penyaradan. Belum 100% jalan sarad pasca kegiatan pemanenan dilakukan deaktivasi. Berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan pada areal bekas jalan sarad/cabang dijumpai adanya pembuatan sudetan untuk meminimalisir terjadinya erosi. Berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan pada areal bekas jalan sarad/cabang dijumpai adanya pembuatan sudetan untuk meminimalisir terjadinya erosi.      
13. Kegiatan Pemanenan Di Sekitar Desa(Pemantantauan Nilai Konservasi Tinggi 5).
a. Dampak terhadap kebutuhan dasar masyarakat. Tanda-tanda kegiatan penebangan di NKT 5 di sekitar desa oleh PT GHL 0% pemanfaatan di daerah NKT 5 yang disepakati masyarakat. Pengamatan pada waktu patroli dan laporan dari masyarakat. Berdasarkan pemantauan yang dilakukan tidak ditemukan tanda-tanda kegiatan penebangan di daerah NKT 5 disekitar desa Limampoli oleh PT GHL. Berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan tidak dijumpai adanya aktifitas penebangan di daerah NKT 5. Berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan tidak dijumpai adanya aktifitas penebangan di daerah NKT 5.      
14. Kegiatan Pemanenan di Kawasan Budaya dan Sekitar Situs Budaya (Pemantauan Nilai Konservasi Tinggi 6)
a. Dampak terhadap kawasan budaya dan situs budaya masyarakat. Tanda-tanda kegiatan penebangan di NKT 6 yang disepakati masyarakat.

• 0% pemanfaatan di daerah "Cagar Budaya" NKT 6 yang disepakati masyarakat.

• 100% pelaksanaan Reduced Impact Logging (RIL) di kawasan yang boleh dikelola dengan kesepakatan masyarakat

Pengamatan pada waktu patroli dan laporan dari masyarakat. Berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan tidak ditemukan tanda-tanda kegiatan penebangan di daerah NKT 6 (Waedanga) yang disepakati masyarakat. Berdasarkan hasil pemantauan yg dilakukan tidak dijumpai aktifitas perusahaan di daerah/sekitar NKT 6. Berdasarkan hasil pemantauan yg dilakukan tidak dijumpai aktifitas perusahaan di daerah/sekitar NKT 6.